haha69
haha69
Menkes pastikan penanganan stunting di Kupang terlaksana dengan baik

SDM baik dokter maupun bidan harus bisa mengoperasikan USG. Ibu hamil untuk skrining kesehatannya cukup ditangani di puskesmas, kecuali ada hal lain yang mengharuskan dirujuk ke rumah sakit

Jakarta (ANTARA) – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan penanganan stunting di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terlaksana dengan baik dengan tersedianya alat antropometri dan ultrasonografi (USG) di setiap puskesmas di Kota Kupang.

Dalam keterangan di Jakarta, Rabu, dikatakan Menkes Budi meninjau Puskesmas Oebobo dan Puskesmas Oepoi pada Selasa (24/10), sekaligus melihat langsung Poli Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak untuk memastikan ketersediaan dan fungsionalitas antropometri dan USG di kedua puskesmas tersebut.

“SDM baik dokter maupun bidan harus bisa mengoperasikan USG. Ibu hamil untuk skrining kesehatannya cukup ditangani di puskesmas, kecuali ada hal lain yang mengharuskan dirujuk ke rumah sakit,” kata Menkes Budi.

Ia juga memastikan set antropometri sudah tersedia di posyandu yang masuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Oebobo dan Oepoi.

Baca juga: Pemkab Kupang target stunting turun hingga sembilan persen 2024

Dalam kesempatan tersebut Menkes juga menyempatkan berbincang dengan salah satu ibu yang melakukan kontrol rutin.

“Ibu harus rutin menimbangkan anaknya ke posyandu. Berat badan anak harus naik setiap bulannya, berikan anak protein hewani seperti telur. Kalau ayahnya merokok, gunakan uang yang tadinya buat rokok untuk beli telur,” ujar Menkes.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Oebobo dr Maria Kurniawati Mari menyebutkan adanya USG di setiap puskesmas di Kota Kupang mempermudah urusan masyarakat, khususnya ibu hamil. 

“Kebanyakan ibu hamil mengaku senang bisa USG di puskesmas, mereka bisa dengan mudah ke puskesmas untuk memeriksakan kehamilannya tanpa antre di rumah sakit,” ucap Maria.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: NTT jadi contoh pengentasan stunting

Sebagai informasi, antropometri adalah suatu metode yang digunakan untuk menilai ukuran, proporsi, dan komposisi tubuh anak. Standar antropometri anak didasarkan pada parameter berat badan dan panjang/tinggi badan yang terdiri atas empat indeks, meliputi Berat Badan menurut Umur (BB/U), Panjang/Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U); Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB), dan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Tersedianya antropometri di setiap posyandu di Kupang turut berkontribusi pada penurunan angka stunting di NTT. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) Februari 2023, stunting di NTT tinggal 15,7 persen atau 67.518 balita, terjadi penurunan signifikan dibanding 2018 yang mencapai 35,4 persen atau 81.434 penderita.

Dalam kurun waktu dua tahun ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membagikan sekitar 300 ribu set antropometri ke seluruh posyandu di Indonesia. Selain itu Kemenkes juga turut mendistribusikan 10 ribu USG ke seluruh puskesmas guna menekan angka stunting.

Baca juga: Wagub sebut penurunan stunting di NTT merupakan prestasi

Pewarta: Sean Muhamad
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2023